Stay Zen and Peaceful during Physical Distancing - Female Daily Talk

khansalrst19

Beauty Savvy

25 - 29

Stay Zen and Peaceful during Physical Distancing

16

27

Hiii FD Members! As we all know, due to COVID-19 outbreak, pemerintah sudah menghimbau kita semua untuk meminimalisir berkegiatan di luar rumah untuk mencegah virus ini menyebar dengan cepat. Waktu awal-awal WFH sih masih excited karena waktu yang biasanya digunakan untuk perjalanan ke kantor/sekolah/kampus jadi bisa dialokasikan untuk kegiatan lain (yay more sleep time! 😝) tapi kok makin lama udah mulai matgay yah di rumah aja? Udah terlalu sering melakukan aktivitas online, jadinya craving for social interaction, tapi kan lagi diterapkan physical distancing dan gak boleh keluar rumah? Ditambah di rumah pun keseringan terpapar oleh berita-berita tentang COVID-19, baik dari portal berita, Whatsapp Group keluarga, atau bahkan social media itself yang malah bikin makin stress dan parno! Disaat kayak gini nih, perlu banget tuh menjaga pikiran agar tetap tenang di tengah huru-hara berita negatif di luar sana, but it is not an easy task at all! But, worry not, karena dr. Jiemi Ardian, SpKJ, Psikiater RS Siloam Bogor, akan membantu kalian dengan menjawab pertanyaan plus share tips supaya tetap zen dan tenang menghadapi uncertain situation kayak sekarang. So, feel free to drop your questions below yah! Kalau mau curhat juga boleh banget! ;)

Tags

mental health

kesehatan mental

social distancing

covid-19

virus outbreak

#dirumahaja

30 Mar 2020 ∙ Edited


sort by

TALK

ling

Beauty Newbie

19 - 24

04 Apr 2020

Hi, dr. Jiemi. Setahun lalu saya mengalami emotional and social bullying, terlebih seperti di-backstab oleh sahabat saya sendiri. Sejak saat itu, saya gak suka msk kls mengikuti kuliah, selalu menyendiri, sulit tidur, tidak suka melakukan hobi saya lagi bahkan sampai cancel acara yg sudah disetujui. Setiap buka media sosial yg ada pembully itu saya selalu merasa tidak nyaman. Belakangan saya tidak banyak bermain medsos, lbh menikmati wkt sendiri. I feel like I wanna be gone from society. Tbh, I am too broken hearted diperlakukan seperti itu. Saya sudah minta maaf tetapi katanya saya tdk slh, dan mereka tetap bersikap seperti itu. Bahkan, saya sempat ingin cuti kuliah karena gak mau sekelas sama mereka. Pada saat libur semester, saya rasanya senang sekali tdk bertemu mereka, tetapi tetap kepikiran tentang hal yang mereka lakukan. Namun, pas msk kuliah lagi, saya down kembali. Almost every day akan kepikiran hal yg berkaitan dengan mereka. Saya selalu berusaha menghindar seperti msk kls selalu telat dan selesai kls keluar duluan. Sering kali pada saat tidur pikiran tdk bs berhenti. Setelah kejadian ini juga I feel tensed shoulder and hard to concentrate. I can't trust people, worry what others will talk about me, and I don't even remember when the last time i was happy. Pada masa libur covid ini, saya senang karena tidak bertemu mereka sama sekali, tdk main sosial media yg bs liat mereka. Really little exposure. However, lately i am being nostalgic. Setiap mau tidur saya selalu teringat masa indah pada saat saya msh aktif dulu dan masa saat saya benar2 down akibat bullying itu. Entah mengapa, saya jg bs teringat beberapa org yang blng ke saya bahwa mereka dengar dr anak2 kampus tentang saya, padahal hal yang saya lakukan tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Saya mulai merasa cemas kembali dan berpikiran tdk ingin menghadiri wisuda nantinya. Could you help me, please?

04 Apr 2020 ∙ Edited

annedean

Beauty Guru

19 - 24

31 Mar 2020

halo dok, saya punya eating disorder binge & purge yang udah membaik 6 bulan belakangan ini karena sudah punya rutinitas harian yang jadi distraksi dari makanan. Tapi selama self-isolation di rumah 3 minggu ini, saya jadi stress karena kehilangan rutinitas itu dan "terjebak" di rumah dengan stok makanan. Karena nggak ada distraksi, ditambah stress merasa terisolasi, saya jadi stress-eating, terus saya jadi stress lagi karena merasa berat badan naik (hanya merasa dan kepikiran aja karena saya nggak pernah nimbang), balik lagi coping dengan stress-eating and the cycle goes on. Gimana menanganinya ya dok? karena ini jadi emotional burden buat saya. Terima kasih :)

jiemiardian

Beauty Newbie

30 - 34

02 Apr 2020

@annedean Gangguan makan bisa sangat tercetuskan kembali pada masa-masa seperti ini. Keputusan untuk tidak menimbang merupakan cara yang baik dalam meminimalisir dampak, karena jika menimbang dan ternyata kenyataan lebih buruk dari ekspektasi kita maka akan menjadi stres baru dan kembali terjebak dalam siklus stres-gangguan makan. karena konsultasi ke psikiater atau psikolog dalam masa-masa ini juga sulit kita perlu menemukan rutin baru sampai COVID ini selesai. Ciptakan distraksi lain yang mungkin masih bisa kita buat di rumah, dan usahakan distraksi ini merupakan hal yang secara rutin bisa kita lakukan di rumah agar mudah kita akses ketika dorongan untuk gangguan makan ini muncul. Atau mungkin justru kita menggunakan gerakan fisik tertentu sebagai distraksi, misalnya berlatih yoga di rumah, atau berlatih Zumba di rumah melalui panduan video YouTube, atau mungkin sekedar latihan relaksasi di rumah seperti yang saya tuliskan dalam jawaban jawaban sebelumnya. Stres akan memicu gangguan makan, dan gangguan makan akan mengakibatkan stres, dan siklus ini akan terus-menerus terjadi sampai kita memutus rantai siklusnya. Kita bisa mengurangi stres dengan relaksasi, mengurangi berita, mencari distraksi. Dengan mengurangi stres kita mengurangi kecenderungan untuk gangguan makan kambuh kembali. Semoga bisa membantu.

NadyaSush

Beauty Newbie

25 - 29

31 Mar 2020

aku tuh bisa dibilang termasuk orang yang extrovert, dan memang aku ngerasa "charge" energi tuh kalo abis ngobrol sama orang banyak. karena physical distancing ini otomatis ruang gerak jadi terbatas banget dong, gabisa keluar rumah kan soalnya! minggu2 awal aku ngelakuin semua cara biar tetep bisa ngobrol sama orang; chat, telfon, video call, ngobrol sama orang rumah.. tapi ternyata itu semua gak cukup bagi aku dok, aku tetep butuh ngobrol face to face dengan orang yang berbeda supaya aku gak stress hiks, gimana ya dok ngatasinnya? bener-bener stress sendiri sampe pusing dan rambutku rontok :((((

jiemiardian

Beauty Newbie

30 - 34

02 Apr 2020

@NadyaSush Situasi pandemi COVID ini memang tidak ideal, sehingga sulit mengharapkan perasaan yang ideal ditengah kondisi yang tidak ideal. Mengharapkan kita mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan emosional seperti dulu dimasa tidak pandemi, seringkali akan berujung stres tambahan. Karena kita berharap bisa bersama, tapi kenyataannya memang tidak bisa. Sehingga kita merasa marah akibat harapan kita tidak terpenuhi. Di tengah situasi yang tidak ideal yang bisa kita lakukan adalah meminimalisir dampak dari situasi yang terjadi, atau minimal situasi saat ini bertahan tidak menjadi lebih buruk. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan emosinoal dalam masa seperti ini bagi orang yang ekstrovert? Kita tetap tidak boleh keluar rumah atau berhubungan face-to-face sementara ini, tapi kita juga tetap perlu memenuhi kebutuhan emosional sekalipun tidak sepenuhnya terpenuhi. Jika ngobrol dengan media sosial dirasa kurang, maka kita bisa lakukan kontak keterhubungan dengan cara-cara lain misalnya dengan bermain game bersama yang ramai-ramai. Atau kalau itu di rumah kita bisa sambil bermain board game, Jadi selain koleksi makanan Kita juga bisa mencari koleksi board game. atau jika bermain game bukan lah kebiasaan kita, maka memasak bersama di rumah, atau memperbaiki rumah bersamam atau mencuci mobil bersama di rumah atau aktivitas lain apapun yang bisa dilakukan bersama-sama bisa dilakukan dari rumah. Jika obrolan via internet dirasa tidak cukup, maka mungkin interaksi yang terkait aktivitas fisik bisa membantu.

HildaSrswt

Beauty Newbie

19 - 24

31 Mar 2020

dok ada tips gak yah supaya tetap zen diantara banyak berita dan kabar negatif dan juga menyedigkan tentang pandemi covid-19 ini? soalnya saya mau gamau harus terus update dengan berita dan kabar terbaru karena tuntutan pekerjaan saya di tim social media, tapi saya setiap harinya jadinya sangat drained hanya karena baca-baca berita tersebut :(

jiemiardian

Beauty Newbie

30 - 34

02 Apr 2020

@HildaSrswt Jika memungkinkan maka kita perlu mengatur durasi dan frekuensi dalam pencarian konten untuk pekerjaan. Pekerjaan memang penting tapi kesehatan kita (termasuk kesehatan jiwa) juga tidak kalah pentingnya. Jika misalnya kita bekerja selama 8 jam, maka sediakan waktu di tengah-tengah seperti waktu makan siang untuk tidak menyentuh berita sama sekali dan waktu setelahnya untuk juga focus kan diri memulihkan stres dari pembacaan berita saat kita bekerja. Diantara waktu-waktu tersebut mari kita juga mengurangi interaksi termasuk di media sosial yang rawan menimbulkan stres baru tanpa kita sengaja. adalah lebih baik melakukan aktivitas fisik secara nyata di masa isolasi ini misalnya dengan home workout, atau belajar memasak, atau sekedar jalan di luar, sehingga kita tidak terlalu terfokus pada berita tentang pandemi ini yang membuat kita stress. Pekerjaan bukan sesuatu yang bisa kita atur, tapi respon kita selanjutnya itulah yang bisa kita atur.

rainytree

Beauty Newbie

25 - 29

31 Mar 2020

Dok mau curhat nih, aku itu daridulu orangnya terbiasa dengan planning jauh ke depan, dan ngerasa kalo aku udah punya planning misal untuk minggu depan/bulan depan mau ngapain aja tuh rasanya hidupku terstruktur dan tenang. Nah, sekarang aku dihadapkan dengan situasi pandemi yang bikin segalanya jadi uncertain, dan jujur aku jadi stress sendiri :( boleh minta tipsnya dong dok untuk orang kayak aku biar tetep bisa calm di situasi kayak gini huhu

jiemiardian

Beauty Newbie

30 - 34

02 Apr 2020

@rainytree Hidup punya caranya yang unik untuk mengajarkan kita sesuatu. Jika kita pernah berdoa untuk kesabaran, kadang hidup memberi kita orang yang menyebalkan. jika kita pernah berdoa untuk pemaafan, kadang hidup memberi kita orang yang menyakiti. Hidup selalu punya jalan untuk memberi kita pelajaran. Realita berjalan sesuai kodratnya, realita tidak sedang yang mengikuti kemauan pikiran kita. Jika kita memilih untuk tidak luwes, kaku dalam menghadapi realita, tinggal tunggu waktu kehidupan memberikan pelajaran dan kita merasa kepayahan dalam melaluinya. Banyak orang memang tidak menyukai ketidakpastian, kita begitu ingin mengendalikan keadaan, kita begitu suka perencanaan. Tapi lagi lagi, kehidupan punya jalannya sendiri dan kita tidak bisa memaksanya. Kita perlu belajar menyadari bahwa Ada hal hal yang diluar kendali kita Ada hal hal yang didalam kendali kita Ada hal hal yang kelihatannya dalam kendali, padahal tidak sepenuhnya dalam kendali Untuk hal-hal yang di dalam kendali, Mari kita usahakan titik untuk hal-hal yang diluar kendali, mari belajar ikhlaskan. Untuk hal-hal yang kelihatannya dalam kendali padahal tidak sepenuhnya, mari belajar perjuangkan tapi sadari bahwa hasil akhirnya kadang tidak sepenuhnya ada di tangan kita. Jika kita memaksa untuk mengendalikan yang di luar kendali, yang terjadi adalah frustasi. Jika kita pasrah diam saja ketika ada hal-hal yang di dalam kendali, yang terjadi adalah kita sudah kalah sebelum berperang. Mungkin saja Ini adalah pelajaran dari kehidupan untuk mengajarkan kita bahwa ada (banyak) hal-hal yang di luar kendali kita, dan oleh karenanya ini adalah pembelajaran yang sangat baik bagi kita untuk melepaskan dan mengikhlaskan. Belajar menerima sebagaimana adanya, menyambut apa yang disediakan kehidupan bagi kita. Kita tidak bisa memilih apa yang kehidupan sediakan saat ini, tapi kita bisa memilih mengatur respon kita atas apa yang kehidupan sediakan. Kehidupan saat ini menyediakan COVID 19 di depan kita, mari belajar untuk mengatur respon dan melepaskan yang tidak bisa kita atur.

joyvita

Beauty Newbie

19 - 24

31 Mar 2020

dok, apakah possible situasi kayak sekarang ini bisa jadi pemicu munculnya OCD? karena ibuku bener-bener kayak gak bisa hidup tenang gitu karena banyak sisi di rumah belum bersih menurut dia, padahal menurut kita sekeluarga tuh udah bersih :( sebelumnya ibuku gak segitunya doook huhu

jiemiardian

Beauty Newbie

30 - 34

02 Apr 2020

@joyvita Gangguan jiwa selalu kompleks, dimulai dari kerentanan genetik, gaya penyelesaian masalah, perkembangan masa kanak, pola kelekatan, sistem sosial, adanya stresor, dan lain sebagainya. COVID 19 ini adalah stresor, yang mungkin bagi sebagian besar orang begitu berat sehingga mengganggu keseimbangan diri dan mungkin kembali mengalami gangguan jiwa. Walaupun saya tetap tidak berani mengatakan apakah ibu mengalami OCD atau tidak, karena OCD adalah gangguan yang sangat berat, dan perlu pemeriksaan langsung untuk mendiagnosis. Jika setelah COVID 19 berakhir pola tersebut masih berlangsung, maka lebih baik dikonsultasikan ke psikiater terdekat ya. Tapi bagi teman-teman yang pernah mengalami OCD sebelumnya, melihat perilaku cuci tangan orang sekitar, ancaman virus, kecemasan dan rasa takut mungkin menggelincir di pikiran kita dan membuat kita kembali merasakan gejala OCD. Kita perlu lebih waspada dalam masa-masa ini agar tidak kembali relapse. Mari awasi pikiran dan perasaan yang muncul, sadari dan batasi perilaku kompulsif yang muncul. Batasi waktu cuci tangan, mandi, dan aktivitas yang terkait kebersihan agar kita tidak tergelincir kembali pada pola lama.

yellowbanana

Beauty Newbie

19 - 24

31 Mar 2020

wajar nggak sih dok kalau sering ketakutan di situasi kayak gini? gimana caranya membedakan kita ini depresi atau cuma sedih dan takut yang masih dalam batas wajar aja dok?

jiemiardian

Beauty Newbie

30 - 34

02 Apr 2020

@yellowbanana Dari organisasi kesehatan dunia (World Health Organization), Cemas takut marah sedih bingung dalam kondisi pandemi adalah hal yang wajar. menjadi tidak wajar jika perasaan pikiran atau perilaku ini menjadi begitu indah dan sulit dikendalikan sehingga keseharian kita menjadi terganggu. Perasaan pikiran yang tidak nyaman adalah hal yang wajar dan harus terjadi dalam kondisi pandemi seperti ini. Justru kalau kita terlalu percaya diri yakin bahwa jadiri ini baik-baik saja, atau merasa kalau saya terkena pun saya tetap akan baik-baik saja karena daya tahan tubuh saya yang kuat, optimisme keliru ini disebut bias optimisme. Bias optimisme merupakan hal yang berbahaya sekalipun kelihatannya berpikir positif. Dalam kondisi pandemi, orang yang mengalami cemas dalam tataran wajar akan lebih mampu adaptif ketimbang orang yang mengalami bias optimisme. Terlalu percaya diri dalam kondisi pandemi dapat membuat kita ke gabah dan justru meningkatkan kemungkinan terkena penyakit atau hal-hal yang tidak kita inginkan. Jadi justru cemas dan takut kita butuhkan untuk menghindari hal-hal yang berbahaya untuk melindungi diri kita dan orang yang kita sayangi. Bagaimana kita tahu kalau sedih dan cemas sudah tidak wajar lagi, yaitu ketika kita sudah mengalami distres dan disfungsi, penjelasan panjangnya seperti jawaban saya untuk @lilgin.

MithaSW

Beauty Newbie

30 - 34

31 Mar 2020

dok, ada nggak ya exercise yang bisa saya coba untuk mendistraksi diri dari pikiran2 buruk? jadi saya bisa tetap tenang dan zen :D

jiemiardian

Beauty Newbie

30 - 34

02 Apr 2020

@MithaSW Ada beberapa exercise untuk mengurangi kecemasan. Tenang dan zen bukan berarti tidak cemas, tapi menyadari bahwa kita cemas tanpa terlarut didalamnya. Bukan pula kehilangan rasa takut, tapi sadar kalau diri sedang takut dan tidak bertindak spontan mengikuti perasaan. Latihan dimaksudkan untuk kita menyadari emosi yang muncul, pikiran yang muncul, bukan untuk dihakimi atau dihilangkan tapi sekadar disadari kalau dia ada. Jika pikiran atau perasaan yang muncul kita diamkan (tanpa terlarut di dalamnya), sebenarnya pikiran dan perasaan ini akan berlalu dengan sendirinya. Yang membuatnya bertahan lebih panjang adalah karena kita tenggelam dalam pikiran-pikiran tersebut. Misal karena sedang pandemi seperti ini, lalu pikiran kita mikirin skenario-skenario yang mungkin muncul pada saat pandemi atau setelah pandemi terjadi. “Nanti gimana ya kalau begini”, Lalu pikiran kita Sibuk mikirin jawabannya, yang selanjutkan akan menimbulkan pertanyaan baru lagi “terus kalo begini gimana”, Lalu pikiran kita kembali Mengikuti alur pertanyaan yang kita ciptakan sendiri dan membuat kita cemas sendiri. Pertanyaan dari pikiran yang muncul seringkali merupakan masalah yang kita ciptakan untuk diri kita sendiri. Bagus jika pertanyaan tersebut sebenarnya nyata dan ada jawabannya, tapi seringkali yang terjadi adalah pertanyaan tersebut merupakan skenario pikiran kita sendiri, atau merupakan sesuatu yang jelas di luar kendali, atau sesuatu yang tidak bisa kita pastikan. Jika sesuatu tersebut di luar kendali, tidak bisa kita pastikan, dan merupakan skenario pikiran kita sendiri, lalu untuk apa kita jawab? Menjawab pikiran-pikiran yang hadir hanya akan melelahkan saja. Lalu bagaimana? Di atas saya menyebutkan bahwa tenang itu bukan berarti kita tidak merasakan cemas, atau berarti tidak memikirkan tentang masa depan, bukan begitu maksudnya. Latihan ini dimaksudkan hanya untuk menyadari pikiran yang hadir, tapi tidak perlu menghakimi pikiran ini sebagai benar/salah, hitam/putih, tanpa penilaian saja. Dan kalau ada pertanyaan yang muncul, ya disadari saja bahwa itu pikiran semata, tidak perlu semuanya dijawab. Pikiran yang muncul ya disadari, tidak perlu semua pikiran kita ikut mikirin. Latihan mindful breathing bisa kita lakukan dalam masa masa begini. Latihannya cukup sederhana, duduk diam dan perhatikan nafas yang masuk dan keluar. Tidak perlu Berusaha untuk mengatur dan mengubah nafas, cukup disadari saja rasa nafasnya. Akan ada rasa dada kita terangkat atau perut kita mengembang, ada rasa udara yang mengalir dari hidung, ada sensasi di tubuh ketika kita bernafas, rasakanlah ini semua. Dalam waktu singkat pikiran kita akan berkelana ke sana kemari, pada waktu tersebut sadari bahwa pikiran kita sedang melayang, tidak perlu diikuti, secara lembut alihkan perhatian kembali pada nafas. Pikiran kita akan kembali melompat lagi, tapi itu tidak apa, secara lembut alihkan lagi perhatikan kembali pada nafas. Lakukan ini paling tidak 10 menit setiap harinya, agar kita tidak terlalu larut dalam pikiran.

kiraneeey

Beauty Newbie

19 - 24

31 Mar 2020

gimana sih caranya dok mengontrol stress yang paling gampang dilakukan untuk orang awam? berita-berita tentang corona ini bikin aku mulai susah tidur sampai sering banget baru bisa tidur abis solat subuh :(

31 Mar 2020 ∙ Edited

jiemiardian

Beauty Newbie

30 - 34

02 Apr 2020

@kiraneeey Stres yang kita rasakan bukan hanya terasa di pikiran dan perasaan, tapi juga ditubuh. Stres yang terjadi jika melampaui ambang batas kemampuan tubuh menahan maka dapat saja terjadi gangguan pada kesehatan seperti gangguan tidur. Jika tubuh sudah memberi tanda-tanda bahwa stres yang kita alami melampaui kapasitas diri, maka kita perlu waspada dan mengubah sesuatu tentang hal tersebut. Kita bisa melakukan dua hal 1. Mengurangi stresor, 2. Meningkatkan kemampuan diri menghadapi stresor. Kita bisa mengurangi stresor seperti jawaban yang saya tulis untuk @novnovy. “Tapi dok saya penasaran, kan butuh tahu informasi juga”. Benar bahwa kita butuh tahu informasi, dan benar juga bahwa kita penasaran. Tapi jika menjawab rasa penasaran malah membuat tubuh mengeluarkan sinyal stres berlebihan, bukankah kita sedang mengorbankan kesehatan tubuh sekadar memenuhi rasa penasaran? Lepaskan dulu rasa penasaran, tidak perlu dituruti. Jikapun kita diamkan beberapa menit, rasa penasaran akan berlalu. Ketimbang kita terus mengikuti rasa penasaran yang tidak ada habisnya, tubuh malah berontak karena terlalu lelah menghadapi stresor. Lalu apa cara mudah menghadapi stresor? Kita bisa melatihkan diri bernafas slow deep breathing, misalnya dengan pernafasan 4-7-8. Menarik nafas dalam 4 hitungan, lalu tahan selama 7 hitungan dan keluarkan selama 8 hitungan. Lakukan tarik nafas melalui hidung, dan keluarkan senyamannya saja bisa melalui mulut atau hidung. Lakukan 6 hingga 7 siklus menarik dan menghembuskan nafas. Teknik grounding juga bisa kita latihkan. Latihkan dengan memusatkan perhatian di indera kita pada saat ini. Sebutkan 5 hal yang kita lihat saat ini, yang biasanya kita tidak sadari ada di ruangan ini, lalu dengarkan 4 hal yang ada disaat ini, cium bau apa yang hadir saat ini, raba dan sentuh sensasi yang ada didekat kita saat ini. Kecemasan adalah pikiran yang melompat ke masa depan, dengan indera kita bisa membawa pikiran kembali ke saat ini. Tenang saja, pikiran kita akna kembali melompat lagi ke masa depan. Pada saat itu maka grounding lagi, latihkan ini terus menerus sampai kita punya reflek untuk sadar kapan menarik pikiran ke saat ini.

lilgin

Beauty Newbie

19 - 24

31 Mar 2020

Hi Dok! Aku tuh merasa dari jaman sekolah sampe sekarang udah kerja tuh sering banget overthinking terhadap suatu hal, tapi ya selama ini aku merasa overthinking ku tuh masih bisa ku handle walaupun ada beberapa waktu yang bikin aku stress sampe gak bisa tidur. Nah gara-gara si covid-19 ini, akhir-akhir ini aku ngerasa stress banget karena sifat overthinking ku, sebenernya di tahap apa sih dok kita perlu konsultasi ke psikiater? Karena gak boleh self-diagnosed juga kan ya dokk..

jiemiardian

Beauty Newbie

30 - 34

02 Apr 2020

@lilgin Halo @lilgin, ternyata udah lama jadi sobat overthinking ya. Pikiran kemana-mana itu wajar, tugasnya pikiran memang memikirkan sesuatu. Selama kita terjaga, pikiran kita akan bertugas memikirkan sesuatu. Kita tidak bisa memaksa pikiran untuk “nggak mikirin” sesuatu. Misalnya kita mau memerintahkan otak untuk “jangan mikirin COVID-19”, pikiran kita akan tetap memikirkan COVID-19. Cara untuk tidak memikirkan satu hal, adalah dengan mengarahkan pikiran ke hal lain. Cara untuk tidak terjebak dalam kecemasan dimasa depan, adalah mengarahkan pikiran dimasa kini. Jadi boleh kok memikirkna banyak hal, selama kita masih punya kendali atas pikiran. Jadi kapan kita perlu mencari pertolongan psikiater/psikolog? Ketika terjadi dua hal ini: 1. Distres yaitu rasa menderita karena pikiran/perasaan/perilaku yang muncul. Misalnya ketika perasaan sedih sudah terlalu berat sampai rasanya ingin menghilang saja, atau perasaan cemas rasanya terlalu menyakitkan sampai tidak bisa membuat kita berpikir apa-apa atau perasaan takut yang membuat kita tidak produktif dan malah terjebak dalam perasaan. 2. Disfungsi yaitu ketidakmampuan melakukan aktivitas seperti sedia kala. Misalnya kita menjadi tidak mampu untuk merawat anak dengan sewajarnya, kerjaannya marah-marah terus atau misalnya kita tidak mampu merawat diri ke masa hingga mandi saja begitu malas rasanya titik atau misalnya ketika kita bahkan tidak bernafsu lagi untuk makan, menjadi sangat kesulitan untuk tidur atau menjadi sangat kesulitan untuk bangun dari tidur. dan disfungsi ini berlangsung berkepanjangan dan terus-menerus bukan hanya didapatkan ketika ada stresor. Jika ada dua hal ini maka sudah perlu kita konsultasi ke profesional. Tapi dikarenakan sekarang sedang masa COVID, ada baiknya konsultasi tatap muka pun ditunda jika memungkinkan. Kecuali jika didapatkan tanda tanda berat, maka tidak bisa ditunda dan kita perlu untuk konsultasi segera. Apa saja tanda bahayanya? 1. Perilaku menyakiti diri sendiri 2. Perilaku menyakiti orang lain 3. Perilaku tidak terkontrol. Jika didapatkan tanda bahaya ini maka Mari tidak menunggu lebih lama dan langsung mencari pertolongan profesional segera.

Prev
1
2
Next